Oleh Ulfatul M
Siang ini mentari terasa membakar tubuhku. Angin berhembus panas menyentuh kulitku membuatku makin malas berjalan menahan asap dan debu yang beterbangan.
“Ukhti Ana...!”
Sebuah suara yang tak asing bagiku. Aku menoleh. Terlihat Anis melambaikan tangan padaku.
“Ya, Allah! Aku lupa menunggu Ukhti Anis!” gumamku.
Aku tersenyum, kutunggu ia di bawah pohon waru. Teriknya matahari yang terbawa udara panas masih saja meraba kulitku.
pat salam lagi dari Akhi Fahmi. Dan buku Ukhti yang kemarin saya pinjam, tadi dip
Tak berapa lama Anis menghampiriku.
“Ukhti tidak les?” tanya Ukhti Anis dengan napas terengeh-engah.
“Tidak, Pak Hadi ada acara jadi lesnya diliburkan,” jawabku.
“Oh ya, Ukhti tadi dainjam Akhi Fahmi. Katanya dia butuh banget, gitu!”
“Alaiki waalaihissalam, buku yang mana, ya?”
“Buku shorof yang kemarin saya pinjam itu, lo!”
“Oh...., tapi buat apa dia pinjam?”
“Ya, saya tidak tahu. Eh, Ukhti salam kembali tidak?”
“Terserah Ukhti Anis saja deh...”
“Kok terserah?”
“Terus gimana? Masa setiap hari ada salam terus? Jangan-jangan Ukhti Anis sendiri yang mengada-ada?”
“Idih...! Siapa yang mengada-ada? Salamnya beneran, kok. Malah, Fahmi sering menanyakan Ukhti Ana.”
“Menanyakan saya?”
“Iya!”
Aku terdiam. Tiba-tiba hatiku resah. Detak jantungku terasa lebih cepat. Aku memang sudah lama digosipkan dengan Akhi Fahmi. Berawal dari Porseni tingkat Jawa Tengah beberapa bulan lalu. Kebetulan untuk MTQ yang menjadi perwakilan Grobogan adalah aku dan dia. Dari peristiwa itulah gosip antara aku dan Akhi Fahmi bermula.
Aku tak tahu, salam-salam yang disampaikan Ukhti Anis itu benar atau tidak. Tapi aku yakin, Ukhti Anis tidak mungkin bohong. Aku tahu betul dengan dia karena kita telah bersahabat sejak kelas tujuh.
Aku cukup terbiasa dengan salam yang disampaikan Ukhti Anis. Namun, tidak untuk hari ini. Tak biasanya Akhi Fahmi meminjam buku orang lain. Ia sangat rajin, disiplin, dan tak pernah ketinggalan pelajaran.
“Tapi untuk apa ia meminjam bukuku?” gumamku dalam hati.
“Ukhti Ana...!
Sebuah suara mengagetkanku. Sumbernya dari belakang. Serentak aku dan Ukhti Anis berhenti.
“Ukhti Aziz, ada apa?” tanyaku pada Gus Aziz. Ya, dia adalah salah satu putra KH. Muhammad Aziz, pendiri pondok pesantren di tempatku menimba ilmu. Kebetulan sejak kelas tujuh sampai kelas sembilan ini kita selalu satu kelas. Tidak mengherankan jika aku dengan Gus Aziz lebih akrab dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Bahkan, Ukhti Anis pun masih malu bila bertemu Akhi Aziz.
“Kamu punya catatan shorof kemarin, tidak?”tanya Gus Aziz.
“Punya, tapi baru dipinjam Akhi Fahmi,”jawabku.
“Iya, memang Akhi Aziz sangat butuh?”
Ia terdiam. Seperti memikirkan sesuatu.
“Akhi, saya bawa catatan shorof. Bagaimana kalau pinjam saya saja,” tanya Ukhti Anis mencoba mengusulkan solusi.
“Ukhti punya? Ya, sudah, saya pinjam Ukhti Anis saja.”
Ukhti Anis mengeluarkan catatan yang dimaksud lalu diberikan kepada Akhi Aziz.
“Terima kasih Ukhti. Insyaallah saya kembalikan besok,” kata Akhi Aziz sambil berlalu meninggalkan kami.
Tak berapa lama kemudian sampailah kami di pondok. Pondok masih terlihat sepi, hanya beberapa santri saja yang sudah pulang. Aku duduk sejenak melepas lelah yang tertahan sejka tadi. Kulepas seragamku dan kurebahkan tubuhku. Jam dinding menunjukkan pukul 13.45. masih cukup waktu bagiku untuk istirahat sampai azan ashar nanti. Kuperhatikan Ukhti Anis yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri.
“Wah, wah, sobatku lagi kasmaran, nih?” godaku.
Ia memandangku malu.
“Sama siapa, ya?”
Wajahnya terlihat memerah menahan malu yang mungkin berat.
“Sama Gus Aziz, ya?” tebakku asal-asalan.
Ia terlihat kaget. Wajahnya makin merah. Ah, aku tak tahu apakah Ukhti Anis memendam rasa pada Akhi Aziz. Aku jadi tak tega untuk terus menggodanya.
Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya belum sampai aku terlelap, azan ashar berkumandang. Segera aku bangkit untuk memenuhi panggilan-Nya.
Hari ini begitu melelahkan. Kepalaku terasa sedikit pusing. Terpaksa malam ini aku tidak belajar. Sehabis salat isya, sengaja aku langsung istirahat.
Alhamdulillah pagi ini badanku terasa lebih segar. Pusing di kepalaku sudah hilang. Mentari bersinar begitu cerah secerah hatiku. Aku berangkat lebih pagi karena aku harus piket.
Sekolah masih sepi. Hanya beberapa siswa saja yang sudah terlihat di sana. Salah satunya adalah Akhi Fahmi. Dari jauh dia sudah melihat kedatanganku. Ia tersenyum menyambutku.
“Assalamualaikum Ukhti?”
“Waalaikum salam.”
“Oh ya, Ukhti, kemarin saya pinjam buku Uhkti. Dan ini saya kembalikan.”
“Ukhti Anis sudah cerita, kok. Tumben pinjam buku?”
“Ya, masih ada bagian yang belum saya catat,” jawabnya gugup. “Saya ke kelas dulu Ukhti. Assalamualaikum?
“Waalaikumsalam.”
Ia terlihat aneh hari ini. Tidak biasanya ia seperti itu. Aku segera masuk kelas. Sesampai di dalam segera aku letakkan tas di bangkuku. Dan buku shorof itu sebentar kupandangi lalu pelan-pelan kumasukkan ke dalam laci meja. Aku tersentak. Tiba-tiba aku melihat sebuah amplop merah jatuh dari lipatan buku shorof tadi. Ku ambil amplop itu. Ketika aku menundukkan badan hendak mengambil amplop yang jatuh ke lantai, terlihat di laci ada amplop berwarna pink. Hatiku benar-benar tersentak. Dua buah amplop. Amplop apa ini? Satu merah satunya pink. Dengan penasaran dan perasaan tidak menentu kubuka sampul amplop pink dulu. Tampak sebuah surat. Tulisannya rapi. Kubaca pelan-pelan.
Dengan segenap keinginan, keberanian, dan ketulusan
Kutulis hasrat hatiku
Yang telah terpendam sekian lamanya
Sehingga tiada daya lagi diriku memendamnya.
Aku dapat melihat kecantikan jiwamu
Dalam sinar kesabaranmu
Ketulusan dalam senyum indah setiap sapamu
Dan kesetiaan dalam setiap ucapanmu
Setiap malam kupanjatkan doa
Memohon pada sang pemberi rasa
Agar aku bisa tetap melihat, mengharap, dan merasakan sinar jiwamu
Esok dan seterusnya.
Aziz Fatir Al Mubarok
“Akhi Aziz...!” gumamku lirih.
Tubuhku bergetar. Jantungku berdetak makin cepat.
Lalu kubuka amplop merah. Sebuah surat. Tulisannya kecil-kecil rapi.
Dengan memohon ridlo-Nya
Kutulis rasa yang ada
Kepadamu kucurahkan segalanya
Menurut apa hatiku berkata
Rasa ini terus mendera
Tak ada daya batin ini bila tidak kuucapkan
Aku ingin kau mengerti
Katakanlah apa yang hatimu katakan
Jangan kau membisu
Kepastian kan kutunggu
Rasaku kini tlah kau tahu dan biarka aku menanti waktu itu.
Fahmi Maulana Izzi
“Akhi Fahmi...!” kembali aku bergumam lirih.
Aku terduduk. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin Ukhti Anis tahu tentang hal ini. Aku tahu, ia memendam rasa pada Akhi Aziz. Dan kini mengapa Akhi Aziz mencurahkan perasaannya padaku?
Ya, Allah berikanlah hambamu ini jalan untuk dapat menyelesaikan masalah ini. Air mataku mengalir tanpa bisa kubendung lagi.
* * *
Hatiku benar-benar bimbang. Selama pelajaran pada hari itu tidak ada satu pun yang aku pahami. Di dalam otakku hanya ada surat, surat, dan surat. Aku harus mengambil keputusan. Otakku tak mau diajak berpikir. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing. Kulangkahkan kakiku keluar. Tujuanku adalah ke kamar mandi. Aku ingin mencuci muka untuk mendinginkan wajahku.
Keluar dari kamar mandi wajahku sedikit lebih segar. Aku melangkah kembali ke kelas. Di tengah kegelisahanku tiba-tiba aku tersentak melihat Ukhti Anis memegang sampul surat berwarna pink dari Akhi Aziz. Apakah surat itu telah dibaca oleh Ukhti Anis? Aduh, mengapa jadi begini?
“Ukhti, tadi ....” ucapku tersendat.
“Tadi Ukhti ditembak Akhi Aziz?” potongnya cepat.
“Tapi,....”
“Tapi, kenapa Ukhti tidak cerita kepada saya?” potongnya lagi.
Aku bingung harus bagaimana. Ukhti Anis memegang kedua tanganku. Kami berhadap-hadapan. Aku tak sanggup menatap wajahnya.
“Ukhti, Ukhti menganggap saya apa? Kenapa Ukhti tega? Saya selalu berusaha menjaga perasaan Ukhti. Saya tak tega menyakiti hati Ukhti. Namun, mengapa Ukhti tega menyayat-nyayat hati saya?” katanya sambil mengguncang-guncangkan tanganku.
Aku masih merasakan tatapan Ukhti Anis. Dia terisak. Tanganku dilepasnya. Dia kemudian duduk. Air matanya masih mengalir deras. Aku duduk di sampingnya. Tak sanggup berkata.. Rasanya aku ingin menjelaskan masalah ini kepadanya, tetapi mengapa lidahku kelu. Tak satu pun kata keluar dari mulutku. Bibirku seperti terkunci. Pikiranku masih tak tenang. Aku berusaha menguasai diri.
Aku tak bisa menerima cinta Akhi Aziz. Sahabatku telah mencintainya. Ya, Allah berikanlah hamba-Mu jalan....
Aku harus menentukan sikap. Aku tidak ingin persahabatanku dengan Ukhti Anis putus hanya karena mencintai orang yang sama. Aku memang memendam rasa pada Akhi Aziz. Namun, biarlah itu menjadi cinta di dalam hati.
Akhirnya, di atas kertas putih kutulis kepastian itu.
Persahabatan tlah kita jalani
Susah senang kita rasakan bersama
Aku ingin ikatan ini terus abadi
Cinta sahabat sepanjang masa
Jangan kau harap cinta kasihku
Aku tak bisa berikan itu
Yang kubisa hanya cinta sahabat
Seumur hidup sepanjang hayat
Cukup jelas kepastian ini
Menjawab segala bimbing di hati
Aku yakin kau bisa pahami
Bila jodoh di saat nanti
Nifa Annadia
Kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam amplop pink. Segera kuletakkan amplop itu ke dalam laci Akhi Aziz. Tidak ada yang tahu. Saat itu, sekolah sudah sepi. Tinggal aku sendiri yang belum pulang.
Kembali aku menulis kepastian. Untuk menjawab perasaan Akhi Fahmi.
Aku kan katakan apa yang hatiku katakan
Di atas kertas putih ini kan kutulis kepastian
Kucoba mengerti apa yang kau rasakan
Dari apa yang tlah kau curahkan
Aku ingin yang terbaik
Hatiku tak bisa katakan “iya”
Kau pun tak ingin ada dusta
Bila kupaksa untuk bersama
Kamu kan dapatkan yang lebih baik
Pasangan hatimu yang kau tunggu
Percayalah pada cinta sejati
Yang kan datang di saat nanti
Nifa Annadia
Kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam amplop merah.
Setelah hatiku agak tenang. Kuputuskan untuk pulang sebelumnya aku masuki kelas Akhi Fahmi dan kuletakkan amplop itu di lacinya.
Sampai di pondok, Ukhti Anis terlihat masih marah. Namun, harus tetap kuhadapi. Aku harus menjelaskan semuanya. Ukhti Anis percaya atau tidak kupasrahkan semuanya kepada Allah.
“Ukhti Anis, berilah saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya,” pintaku padanya.
“Sudahlah Ukhti, saya ikhlas, kok. Toh, saya juga bukan siapa-siapanya Akhi Aziz,” katanya tanpa menoleh.
“Ukhti, Akhi Aziz memang menembak saya, tapi saya tidak bisa membalas perasaannya. Aku ingin dia tetap menjadi sahabat, bukan pacar.”
Aku diam. Ia juga terdiam.
Aku dekati Ukhti Anis yang sedari tadi memandang ke luar jendela. Jilbabnya yang merah berkibar-kibar terkena angin.
“Ukhti, percayalah, saya tidak mempunyai rasa pada Akhi Aziz. Dan dia akan tetap menjadi sahabatku.”
Dia berbalik. Menatapku. Seketika dia memelukku. Dia menangis. Air matanya mengalir. Kami berangkulan. Aku merasa lega. Ukhti Anis telah bisa menerima penjelasanku.
“Ukhti, maafkan saya karena telah salah paham terhadap Ukhti. Saya terlalu egois padahal saya semestinya tidak berhak marah.”
Kulepas pelukannya. Kupegang kedua tangannya lalu kutatap lekat-lekat wajah Ukhti Anis.
“Sudahlah, yang penting semua sudah jelas.”
Dia mengangguk-angguk.
“Sudah tidak ada salah paham lagi.Marahnya sudah hilang kan?” godaku.
“Ah, Ukhti Ana jahat...!” katanya dan mencubit pinggangku. Dia tertawa-tawa.
“Aduh, sakit tahu!” kataku sambil menghindar. Aku berusaha tersenyum.
Alhamdulillah ya Allah telah Kau berikan jalan keluar masalah ini ...
Rabu, 17 Maret 2010
Jumat, 12 Maret 2010
Semua Ada di Tanganku (Siklus 2)
Oleh Ulfatul M
Siang ini mentari terasa membakar tubuhku. Angin berhembus panas menyentuh kulitku membuatku makin malas berjalan menahan asap dan debu yang beterbangan.
“Ukhti Ana...!”
Sebuah suara yang tak asing bagiku. Aku menoleh. Terlihat Anis melambaikan tangan padaku.
“Ya, Allah! Aku lupa menunggu Ukhti Anis!” gumamku.
Aku tersenyum, kutunggu ia di bawah pohon waru. Teriknya matahari yang terbawa udara panas masih saja meraba kulitku.
pat salam lagi dari Akhi Fahmi. Dan buku Ukhti yang kemarin saya pinjam, tadi dip
Tak berapa lama Anis menghampiriku.
“Ukhti tidak les?” tanya Ukhti Anis dengan napas terengeh-engah.
“Tidak, Pak Hadi ada acara jadi lesnya diliburkan,” jawabku.
“Oh ya, Ukhti tadi dainjam Akhi Fahmi. Katanya dia butuh banget, gitu!”
“Alaiki waalaihissalam, buku yang mana, ya?”
“Buku shorof yang kemarin saya pinjam itu, lo!”
“Oh...., tapi buat apa dia pinjam?”
“Ya, saya tidak tahu. Eh, Ukhti salam kembali tidak?”
“Terserah Ukhti Anis saja deh...”
“Kok terserah?”
“Terus gimana? Masa setiap hari ada salam terus? Jangan-jangan Ukhti Anis sendiri yang mengada-ada?”
“Idih...! Siapa yang mengada-ada? Salamnya beneran, kok. Malah, Fahmi sering menanyakan Ukhti Ana.”
“Menanyakan saya?”
“Iya!”
Aku terdiam. Tiba-tiba hatiku resah. Detak jantungku terasa lebih cepat. Aku memang sudah lama digosipkan dengan Akhi Fahmi. Berawal dari Porseni tingkat Jawa Tengah beberapa bulan lalu. Kebetulan untuk MTQ yang menjadi perwakilan Grobogan adalah aku dan dia. Dari peristiwa itulah gosip antara aku dan Akhi Fahmi bermula.
Aku tak tahu, salam-salam yang disampaikan Ukhti Anis itu benar atau tidak. Tapi aku yakin, Ukhti Anis tidak mungkin bohong. Aku tahu betul dengan dia karena kita telah bersahabat sejak kelas tujuh.
Aku cukup terbiasa dengan salam yang disampaikan Ukhti Anis. Namun, tidak untuk hari ini. Tak biasanya Akhi Fahmi meminjam buku orang lain. Ia sangat rajin, disiplin, dan tak pernah ketinggalan pelajaran.
“Tapi untuk apa ia meminjam bukuku?” gumamku dalam hati.
“Ukhti Ana...!
Sebuah suara mengagetkanku. Sumbernya dari belakang. Serentak aku dan Ukhti Anis berhenti.
“Ukhti Aziz, ada apa?” tanyaku pada Gus Aziz. Ya, dia adalah salah satu putra KH. Muhammad Aziz, pendiri pondok pesantren di tempatku menimba ilmu. Kebetulan sejak kelas tujuh sampai kelas sembilan ini kita selalu satu kelas. Tidak mengherankan jika aku dengan Gus Aziz lebih akrab dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Bahkan, Ukhti Anis pun masih malu bila bertemu Akhi Aziz.
“Kamu punya catatan shorof kemarin, tidak?”tanya Gus Aziz.
“Punya, tapi baru dipinjam Akhi Fahmi,”jawabku.
“Iya, memang Akhi Aziz sangat butuh?”
Ia terdiam. Seperti memikirkan sesuatu.
“Akhi, saya bawa catatan shorof. Bagaimana kalau pinjam saya saja,” tanya Ukhti Anis mencoba mengusulkan solusi.
“Ukhti punya? Ya, sudah, saya pinjam Ukhti Anis saja.”
Ukhti Anis mengeluarkan catatan yang dimaksud lalu diberikan kepada Akhi Aziz.
“Terima kasih Ukhti. Insyaallah saya kembalikan besok,” kata Akhi Aziz sambil berlalu meninggalkan kami.
Tak berapa lama kemudian sampailah kami di pondok. Pondok masih terlihat sepi, hanya beberapa santri saja yang sudah pulang. Aku duduk sejenak melepas lelah yang tertahan sejka tadi. Kulepas seragamku dan kurebahkan tubuhku. Jam dinding menunjukkan pukul 13.45. masih cukup waktu bagiku untuk istirahat sampai azan ashar nanti. Kuperhatikan Ukhti Anis yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri.
“Wah, wah, sobatku lagi kasmaran, nih?” godaku.
Ia memandangku malu.
“Sama siapa, ya?”
Wajahnya terlihat memerah menahan malu yang mungkin berat.
“Sama Gus Aziz, ya?” tebakku asal-asalan.
Ia terlihat kaget. Wajahnya makin merah. Ah, aku tak tahu apakah Ukhti Anis memendam rasa pada Akhi Aziz. Aku jadi tak tega untuk terus menggodanya.
Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya belum sampai aku terlelap, azan ashar berkumandang. Segera aku bangkit untuk memenuhi panggilan-Nya.
Hari ini begitu melelahkan. Kepalaku terasa sedikit pusing. Terpaksa malam ini aku tidak belajar. Sehabis salat isya, sengaja aku langsung istirahat.
Alhamdulillah pagi ini badanku terasa lebih segar. Pusing di kepalaku sudah hilang. Mentari bersinar begitu cerah secerah hatiku. Aku berangkat lebih pagi karena aku harus piket.
Sekolah masih sepi. Hanya beberapa siswa saja yang sudah terlihat di sana. Salah satunya adalah Akhi Fahmi. Dari jauh dia sudah melihat kedatanganku. Ia tersenyum menyambutku.
“Assalamualaikum Ukhti?”
“Waalaikum salam.”
“Oh ya, Ukhti, kemarin saya pinjam buku Uhkti. Dan ini saya kembalikan.”
“Ukhti Anis sudah cerita, kok. Tumben pinjam buku?”
“Ya, masih ada bagian yang belum saya catat,” jawabnya gugup. “Saya ke kelas dulu Ukhti. Assalamualaikum?
“Waalaikumsalam.”
Ia terlihat aneh hari ini. Tidak biasanya ia seperti itu. Aku segera masuk kelas. Sesampai di dalam segera aku letakkan tas di bangkuku. Dan buku shorof itu sebentar kupandangi lalu pelan-pelan kumasukkan ke dalam laci meja. Aku tersentak. Tiba-tiba aku melihat sebuah amplop merah jatuh dari lipatan buku shorof tadi. Ku ambil amplop itu. Ketika aku menundukkan badan hendak mengambil amplop yang jatuh ke lantai, terlihat di laci ada amplop berwarna pink. Hatiku benar-benar tersentak. Dua buah amplop. Amplop apa ini? Satu merah satunya pink. Dengan penasaran dan perasaan tidak menentu kubuka sampul amplop pink dulu. Tampak sebuah surat. Tulisannya rapi. Kubaca pelan-pelan.
Dengan segenap keinginan, keberanian, dan ketulusan
Kutulis hasrat hatiku
Yang telah terpendam sekian lamanya
Sehingga tiada daya lagi diriku memendamnya.
Aku dapat melihat kecantikan jiwamu
Dalam sinar kesabaranmu
Ketulusan dalam senyum indah setiap sapamu
Dan kesetiaan dalam setiap ucapanmu
Setiap malam kupanjatkan doa
Memohon pada sang pemberi rasa
Agar aku bisa tetap melihat, mengharap, dan merasakan sinar jiwamu
Esok dan seterusnya.
Aziz Fatir Al Mubarok
“Akhi Aziz...!” gumamku lirih.
Tubuhku bergetar. Jantungku berdetak makin cepat.
Lalu kubuka amplop merah. Sebuah surat. Tulisannya kecil-kecil rapi.
Dengan memohon ridlo-Nya
Kutulis rasa yang ada
Kepadamu kucurahkan segalanya
Menurut apa hatiku berkata
Rasa ini terus mendera
Tak ada daya batin ini bila tidak kuucapkan
Aku ingin kau mengerti
Katakanlah apa yang hatimu katakan
Jangan kau membisu
Kepastian kan kutunggu
Rasaku kini tlah kau tahu dan biarka aku menanti waktu itu.
Fahmi Maulana Izzi
“Akhi Fahmi...!” kembali aku bergumam lirih.
Aku terduduk. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin Ukhti Anis tahu tentang hal ini. Aku tahu, ia memendam rasa pada Akhi Aziz. Dan kini mengapa Akhi Aziz mencurahkan perasaannya padaku?
Ya, Allah berikanlah hambamu ini jalan untuk dapat menyelesaikan masalah ini. Air mataku mengalir tanpa bisa kubendung lagi.
* * *
Hatiku benar-benar bimbang. Selama pelajaran pada hari itu tidak ada satu pun yang aku pahami. Di dalam otakku hanya ada surat, surat, dan surat. Aku harus mengambil keputusan. Otakku tak mau diajak berpikir. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing. Kulangkahkan kakiku keluar. Tujuanku adalah ke kamar mandi. Aku ingin mencuci muka untuk mendinginkan wajahku.
Keluar dari kamar mandi wajahku sedikit lebih segar. Aku melangkah kembali ke kelas. Di tengah kegelisahanku tiba-tiba aku tersentak melihat Ukhti Anis memegang sampul surat berwarna pink dari Akhi Aziz. Apakah surat itu telah dibaca oleh Ukhti Anis? Aduh, mengapa jadi begini?
“Ukhti, tadi ....” ucapku tersendat.
“Tadi Ukhti ditembak Akhi Aziz?” potongnya cepat.
“Tapi,....”
“Tapi, kenapa Ukhti tidak cerita kepada saya?” potongnya lagi.
Aku bingung harus bagaimana. Ukhti Anis memegang kedua tanganku. Kami berhadap-hadapan. Aku tak sanggup menatap wajahnya.
“Ukhti, Ukhti menganggap saya apa? Kenapa Ukhti tega? Saya selalu berusaha menjaga perasaan Ukhti. Saya tak tega menyakiti hati Ukhti. Namun, mengapa Ukhti tega menyayat-nyayat hati saya?” katanya sambil mengguncang-guncangkan tanganku.
Aku masih merasakan tatapan Ukhti Anis. Dia terisak. Tanganku dilepasnya. Dia kemudian duduk. Air matanya masih mengalir deras. Aku duduk di sampingnya. Tak sanggup berkata.. Rasanya aku ingin menjelaskan masalah ini kepadanya, tetapi mengapa lidahku kelu. Tak satu pun kata keluar dari mulutku. Bibirku seperti terkunci. Pikiranku masih tak tenang. Aku berusaha menguasai diri.
Aku tak bisa menerima cinta Akhi Aziz. Sahabatku telah mencintainya. Ya, Allah berikanlah hamba-Mu jalan....
Aku harus menentukan sikap. Aku tidak ingin persahabatanku dengan Ukhti Anis putus hanya karena mencintai orang yang sama. Aku memang memendam rasa pada Akhi Aziz. Namun, biarlah itu menjadi cinta di dalam hati.
Akhirnya, di atas kertas putih kutulis kepastian itu.
Persahabatan tlah kita jalani
Susah senang kita rasakan bersama
Aku ingin ikatan ini terus abadi
Cinta sahabat sepanjang masa
Jangan kau harap cinta kasihku
Aku tak bisa berikan itu
Yang kubisa hanya cinta sahabat
Seumur hidup sepanjang hayat
Cukup jelas kepastian ini
Menjawab segala bimbing di hati
Aku yakin kau bisa pahami
Bila jodoh di saat nanti
Nifa Annadia
Kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam amplop pink. Segera kuletakkan amplop itu ke dalam laci Akhi Aziz. Tidak ada yang tahu. Saat itu, sekolah sudah sepi. Tinggal aku sendiri yang belum pulang.
Kembali aku menulis kepastian. Untuk menjawab perasaan Akhi Fahmi.
Aku kan katakan apa yang hatiku katakan
Di atas kertas putih ini kan kutulis kepastian
Kucoba mengerti apa yang kau rasakan
Dari apa yang tlah kau curahkan
Aku ingin yang terbaik
Hatiku tak bisa katakan “iya”
Kau pun tak ingin ada dusta
Bila kupaksa untuk bersama
Kamu kan dapatkan yang lebih baik
Pasangan hatimu yang kau tunggu
Percayalah pada cinta sejati
Yang kan datang di saat nanti
Nifa Annadia
Kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam amplop merah.
Setelah hatiku agak tenang. Kuputuskan untuk pulang sebelumnya aku masuki kelas Akhi Fahmi dan kuletakkan amplop itu di lacinya.
Sampai di pondok, Ukhti Anis terlihat masih marah. Namun, harus tetap kuhadapi. Aku harus menjelaskan semuanya. Ukhti Anis percaya atau tidak kupasrahkan semuanya kepada Allah.
“Ukhti Anis, berilah saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya,” pintaku padanya.
“Sudahlah Ukhti, saya ikhlas, kok. Toh, saya juga bukan siapa-siapanya Akhi Aziz,” katanya tanpa menoleh.
“Ukhti, Akhi Aziz memang menembak saya, tapi saya tidak bisa membalas perasaannya. Aku ingin dia tetap menjadi sahabat, bukan pacar.”
Aku diam. Ia juga terdiam.
Aku dekati Ukhti Anis yang sedari tadi memandang ke luar jendela. Jilbabnya yang merah berkibar-kibar terkena angin.
“Ukhti, percayalah, saya tidak mempunyai rasa pada Akhi Aziz. Dan dia akan tetap menjadi sahabatku.”
Dia berbalik. Menatapku. Seketika dia memelukku. Dia menangis. Air matanya mengalir. Kami berangkulan. Aku merasa lega. Ukhti Anis telah bisa menerima penjelasanku.
“Ukhti, maafkan saya karena telah salah paham terhadap Ukhti. Saya terlalu egois padahal saya semestinya tidak berhak marah.”
Kulepas pelukannya. Kupegang kedua tangannya lalu kutatap lekat-lekat wajah Ukhti Anis.
“Sudahlah, yang penting semua sudah jelas.”
Dia mengangguk-angguk.
“Sudah tidak ada salah paham lagi.Marahnya sudah hilang kan?” godaku.
“Ah, Ukhti Ana jahat...!” katanya dan mencubit pinggangku. Dia tertawa-tawa.
“Aduh, sakit tahu!” kataku sambil menghindar. Aku berusaha tersenyum.
Alhamdulillah ya Allah telah Kau berikan jalan keluar masalah ini ...
* * *
Siang ini mentari terasa membakar tubuhku. Angin berhembus panas menyentuh kulitku membuatku makin malas berjalan menahan asap dan debu yang beterbangan.
“Ukhti Ana...!”
Sebuah suara yang tak asing bagiku. Aku menoleh. Terlihat Anis melambaikan tangan padaku.
“Ya, Allah! Aku lupa menunggu Ukhti Anis!” gumamku.
Aku tersenyum, kutunggu ia di bawah pohon waru. Teriknya matahari yang terbawa udara panas masih saja meraba kulitku.
pat salam lagi dari Akhi Fahmi. Dan buku Ukhti yang kemarin saya pinjam, tadi dip
Tak berapa lama Anis menghampiriku.
“Ukhti tidak les?” tanya Ukhti Anis dengan napas terengeh-engah.
“Tidak, Pak Hadi ada acara jadi lesnya diliburkan,” jawabku.
“Oh ya, Ukhti tadi dainjam Akhi Fahmi. Katanya dia butuh banget, gitu!”
“Alaiki waalaihissalam, buku yang mana, ya?”
“Buku shorof yang kemarin saya pinjam itu, lo!”
“Oh...., tapi buat apa dia pinjam?”
“Ya, saya tidak tahu. Eh, Ukhti salam kembali tidak?”
“Terserah Ukhti Anis saja deh...”
“Kok terserah?”
“Terus gimana? Masa setiap hari ada salam terus? Jangan-jangan Ukhti Anis sendiri yang mengada-ada?”
“Idih...! Siapa yang mengada-ada? Salamnya beneran, kok. Malah, Fahmi sering menanyakan Ukhti Ana.”
“Menanyakan saya?”
“Iya!”
Aku terdiam. Tiba-tiba hatiku resah. Detak jantungku terasa lebih cepat. Aku memang sudah lama digosipkan dengan Akhi Fahmi. Berawal dari Porseni tingkat Jawa Tengah beberapa bulan lalu. Kebetulan untuk MTQ yang menjadi perwakilan Grobogan adalah aku dan dia. Dari peristiwa itulah gosip antara aku dan Akhi Fahmi bermula.
Aku tak tahu, salam-salam yang disampaikan Ukhti Anis itu benar atau tidak. Tapi aku yakin, Ukhti Anis tidak mungkin bohong. Aku tahu betul dengan dia karena kita telah bersahabat sejak kelas tujuh.
Aku cukup terbiasa dengan salam yang disampaikan Ukhti Anis. Namun, tidak untuk hari ini. Tak biasanya Akhi Fahmi meminjam buku orang lain. Ia sangat rajin, disiplin, dan tak pernah ketinggalan pelajaran.
“Tapi untuk apa ia meminjam bukuku?” gumamku dalam hati.
“Ukhti Ana...!
Sebuah suara mengagetkanku. Sumbernya dari belakang. Serentak aku dan Ukhti Anis berhenti.
“Ukhti Aziz, ada apa?” tanyaku pada Gus Aziz. Ya, dia adalah salah satu putra KH. Muhammad Aziz, pendiri pondok pesantren di tempatku menimba ilmu. Kebetulan sejak kelas tujuh sampai kelas sembilan ini kita selalu satu kelas. Tidak mengherankan jika aku dengan Gus Aziz lebih akrab dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Bahkan, Ukhti Anis pun masih malu bila bertemu Akhi Aziz.
“Kamu punya catatan shorof kemarin, tidak?”tanya Gus Aziz.
“Punya, tapi baru dipinjam Akhi Fahmi,”jawabku.
“Iya, memang Akhi Aziz sangat butuh?”
Ia terdiam. Seperti memikirkan sesuatu.
“Akhi, saya bawa catatan shorof. Bagaimana kalau pinjam saya saja,” tanya Ukhti Anis mencoba mengusulkan solusi.
“Ukhti punya? Ya, sudah, saya pinjam Ukhti Anis saja.”
Ukhti Anis mengeluarkan catatan yang dimaksud lalu diberikan kepada Akhi Aziz.
“Terima kasih Ukhti. Insyaallah saya kembalikan besok,” kata Akhi Aziz sambil berlalu meninggalkan kami.
Tak berapa lama kemudian sampailah kami di pondok. Pondok masih terlihat sepi, hanya beberapa santri saja yang sudah pulang. Aku duduk sejenak melepas lelah yang tertahan sejka tadi. Kulepas seragamku dan kurebahkan tubuhku. Jam dinding menunjukkan pukul 13.45. masih cukup waktu bagiku untuk istirahat sampai azan ashar nanti. Kuperhatikan Ukhti Anis yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri.
“Wah, wah, sobatku lagi kasmaran, nih?” godaku.
Ia memandangku malu.
“Sama siapa, ya?”
Wajahnya terlihat memerah menahan malu yang mungkin berat.
“Sama Gus Aziz, ya?” tebakku asal-asalan.
Ia terlihat kaget. Wajahnya makin merah. Ah, aku tak tahu apakah Ukhti Anis memendam rasa pada Akhi Aziz. Aku jadi tak tega untuk terus menggodanya.
Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya belum sampai aku terlelap, azan ashar berkumandang. Segera aku bangkit untuk memenuhi panggilan-Nya.
Hari ini begitu melelahkan. Kepalaku terasa sedikit pusing. Terpaksa malam ini aku tidak belajar. Sehabis salat isya, sengaja aku langsung istirahat.
Alhamdulillah pagi ini badanku terasa lebih segar. Pusing di kepalaku sudah hilang. Mentari bersinar begitu cerah secerah hatiku. Aku berangkat lebih pagi karena aku harus piket.
Sekolah masih sepi. Hanya beberapa siswa saja yang sudah terlihat di sana. Salah satunya adalah Akhi Fahmi. Dari jauh dia sudah melihat kedatanganku. Ia tersenyum menyambutku.
“Assalamualaikum Ukhti?”
“Waalaikum salam.”
“Oh ya, Ukhti, kemarin saya pinjam buku Uhkti. Dan ini saya kembalikan.”
“Ukhti Anis sudah cerita, kok. Tumben pinjam buku?”
“Ya, masih ada bagian yang belum saya catat,” jawabnya gugup. “Saya ke kelas dulu Ukhti. Assalamualaikum?
“Waalaikumsalam.”
Ia terlihat aneh hari ini. Tidak biasanya ia seperti itu. Aku segera masuk kelas. Sesampai di dalam segera aku letakkan tas di bangkuku. Dan buku shorof itu sebentar kupandangi lalu pelan-pelan kumasukkan ke dalam laci meja. Aku tersentak. Tiba-tiba aku melihat sebuah amplop merah jatuh dari lipatan buku shorof tadi. Ku ambil amplop itu. Ketika aku menundukkan badan hendak mengambil amplop yang jatuh ke lantai, terlihat di laci ada amplop berwarna pink. Hatiku benar-benar tersentak. Dua buah amplop. Amplop apa ini? Satu merah satunya pink. Dengan penasaran dan perasaan tidak menentu kubuka sampul amplop pink dulu. Tampak sebuah surat. Tulisannya rapi. Kubaca pelan-pelan.
Dengan segenap keinginan, keberanian, dan ketulusan
Kutulis hasrat hatiku
Yang telah terpendam sekian lamanya
Sehingga tiada daya lagi diriku memendamnya.
Aku dapat melihat kecantikan jiwamu
Dalam sinar kesabaranmu
Ketulusan dalam senyum indah setiap sapamu
Dan kesetiaan dalam setiap ucapanmu
Setiap malam kupanjatkan doa
Memohon pada sang pemberi rasa
Agar aku bisa tetap melihat, mengharap, dan merasakan sinar jiwamu
Esok dan seterusnya.
Aziz Fatir Al Mubarok
“Akhi Aziz...!” gumamku lirih.
Tubuhku bergetar. Jantungku berdetak makin cepat.
Lalu kubuka amplop merah. Sebuah surat. Tulisannya kecil-kecil rapi.
Dengan memohon ridlo-Nya
Kutulis rasa yang ada
Kepadamu kucurahkan segalanya
Menurut apa hatiku berkata
Rasa ini terus mendera
Tak ada daya batin ini bila tidak kuucapkan
Aku ingin kau mengerti
Katakanlah apa yang hatimu katakan
Jangan kau membisu
Kepastian kan kutunggu
Rasaku kini tlah kau tahu dan biarka aku menanti waktu itu.
Fahmi Maulana Izzi
“Akhi Fahmi...!” kembali aku bergumam lirih.
Aku terduduk. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin Ukhti Anis tahu tentang hal ini. Aku tahu, ia memendam rasa pada Akhi Aziz. Dan kini mengapa Akhi Aziz mencurahkan perasaannya padaku?
Ya, Allah berikanlah hambamu ini jalan untuk dapat menyelesaikan masalah ini. Air mataku mengalir tanpa bisa kubendung lagi.
* * *
Hatiku benar-benar bimbang. Selama pelajaran pada hari itu tidak ada satu pun yang aku pahami. Di dalam otakku hanya ada surat, surat, dan surat. Aku harus mengambil keputusan. Otakku tak mau diajak berpikir. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing. Kulangkahkan kakiku keluar. Tujuanku adalah ke kamar mandi. Aku ingin mencuci muka untuk mendinginkan wajahku.
Keluar dari kamar mandi wajahku sedikit lebih segar. Aku melangkah kembali ke kelas. Di tengah kegelisahanku tiba-tiba aku tersentak melihat Ukhti Anis memegang sampul surat berwarna pink dari Akhi Aziz. Apakah surat itu telah dibaca oleh Ukhti Anis? Aduh, mengapa jadi begini?
“Ukhti, tadi ....” ucapku tersendat.
“Tadi Ukhti ditembak Akhi Aziz?” potongnya cepat.
“Tapi,....”
“Tapi, kenapa Ukhti tidak cerita kepada saya?” potongnya lagi.
Aku bingung harus bagaimana. Ukhti Anis memegang kedua tanganku. Kami berhadap-hadapan. Aku tak sanggup menatap wajahnya.
“Ukhti, Ukhti menganggap saya apa? Kenapa Ukhti tega? Saya selalu berusaha menjaga perasaan Ukhti. Saya tak tega menyakiti hati Ukhti. Namun, mengapa Ukhti tega menyayat-nyayat hati saya?” katanya sambil mengguncang-guncangkan tanganku.
Aku masih merasakan tatapan Ukhti Anis. Dia terisak. Tanganku dilepasnya. Dia kemudian duduk. Air matanya masih mengalir deras. Aku duduk di sampingnya. Tak sanggup berkata.. Rasanya aku ingin menjelaskan masalah ini kepadanya, tetapi mengapa lidahku kelu. Tak satu pun kata keluar dari mulutku. Bibirku seperti terkunci. Pikiranku masih tak tenang. Aku berusaha menguasai diri.
Aku tak bisa menerima cinta Akhi Aziz. Sahabatku telah mencintainya. Ya, Allah berikanlah hamba-Mu jalan....
Aku harus menentukan sikap. Aku tidak ingin persahabatanku dengan Ukhti Anis putus hanya karena mencintai orang yang sama. Aku memang memendam rasa pada Akhi Aziz. Namun, biarlah itu menjadi cinta di dalam hati.
Akhirnya, di atas kertas putih kutulis kepastian itu.
Persahabatan tlah kita jalani
Susah senang kita rasakan bersama
Aku ingin ikatan ini terus abadi
Cinta sahabat sepanjang masa
Jangan kau harap cinta kasihku
Aku tak bisa berikan itu
Yang kubisa hanya cinta sahabat
Seumur hidup sepanjang hayat
Cukup jelas kepastian ini
Menjawab segala bimbing di hati
Aku yakin kau bisa pahami
Bila jodoh di saat nanti
Nifa Annadia
Kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam amplop pink. Segera kuletakkan amplop itu ke dalam laci Akhi Aziz. Tidak ada yang tahu. Saat itu, sekolah sudah sepi. Tinggal aku sendiri yang belum pulang.
Kembali aku menulis kepastian. Untuk menjawab perasaan Akhi Fahmi.
Aku kan katakan apa yang hatiku katakan
Di atas kertas putih ini kan kutulis kepastian
Kucoba mengerti apa yang kau rasakan
Dari apa yang tlah kau curahkan
Aku ingin yang terbaik
Hatiku tak bisa katakan “iya”
Kau pun tak ingin ada dusta
Bila kupaksa untuk bersama
Kamu kan dapatkan yang lebih baik
Pasangan hatimu yang kau tunggu
Percayalah pada cinta sejati
Yang kan datang di saat nanti
Nifa Annadia
Kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam amplop merah.
Setelah hatiku agak tenang. Kuputuskan untuk pulang sebelumnya aku masuki kelas Akhi Fahmi dan kuletakkan amplop itu di lacinya.
Sampai di pondok, Ukhti Anis terlihat masih marah. Namun, harus tetap kuhadapi. Aku harus menjelaskan semuanya. Ukhti Anis percaya atau tidak kupasrahkan semuanya kepada Allah.
“Ukhti Anis, berilah saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya,” pintaku padanya.
“Sudahlah Ukhti, saya ikhlas, kok. Toh, saya juga bukan siapa-siapanya Akhi Aziz,” katanya tanpa menoleh.
“Ukhti, Akhi Aziz memang menembak saya, tapi saya tidak bisa membalas perasaannya. Aku ingin dia tetap menjadi sahabat, bukan pacar.”
Aku diam. Ia juga terdiam.
Aku dekati Ukhti Anis yang sedari tadi memandang ke luar jendela. Jilbabnya yang merah berkibar-kibar terkena angin.
“Ukhti, percayalah, saya tidak mempunyai rasa pada Akhi Aziz. Dan dia akan tetap menjadi sahabatku.”
Dia berbalik. Menatapku. Seketika dia memelukku. Dia menangis. Air matanya mengalir. Kami berangkulan. Aku merasa lega. Ukhti Anis telah bisa menerima penjelasanku.
“Ukhti, maafkan saya karena telah salah paham terhadap Ukhti. Saya terlalu egois padahal saya semestinya tidak berhak marah.”
Kulepas pelukannya. Kupegang kedua tangannya lalu kutatap lekat-lekat wajah Ukhti Anis.
“Sudahlah, yang penting semua sudah jelas.”
Dia mengangguk-angguk.
“Sudah tidak ada salah paham lagi.Marahnya sudah hilang kan?” godaku.
“Ah, Ukhti Ana jahat...!” katanya dan mencubit pinggangku. Dia tertawa-tawa.
“Aduh, sakit tahu!” kataku sambil menghindar. Aku berusaha tersenyum.
Alhamdulillah ya Allah telah Kau berikan jalan keluar masalah ini ...
* * *
Jumat, 26 Februari 2010
RINDU YANGT MENDERA
SANG PUJAAN...
INGATKAH KAU DI SEBERANG SANA
KEPADAKU YANG MERINDUKANMU
YANG TAK BISA LUPAKSNMU WALAU SEJENAK SAJA
SANG PUJAAN...
RINDUKAH KAU DI SANA
KEPADAKU YANG GELISAH MEMIKIRKANMU
YANG TAK BISA SEDIKITPUN HAPUS BAYANGMU
HINGGA WAJAHMU TERUS MENGHANTUIKU
KHAYALKU MEMANG SEMU
HARAPKU MEMANG PALSU
TAK BISA AKU DAPATKAN CINTAMU
KARNA CINTAMU TAK TERCIPTA UNTUKKU
HATIKU BEGITU RESAH
MEMENDAM RINDU PENUH GELISAH
TERKADANG RINDU DATANG MENDERA
MENJADI SATU BERSAMA RASA
ANGIN MALAM
BAWALAH RINDU INI
BERIKAN KEPADANYA
AGAR IA MERASAKANNYA
INGATKAH KAU DI SEBERANG SANA
KEPADAKU YANG MERINDUKANMU
YANG TAK BISA LUPAKSNMU WALAU SEJENAK SAJA
SANG PUJAAN...
RINDUKAH KAU DI SANA
KEPADAKU YANG GELISAH MEMIKIRKANMU
YANG TAK BISA SEDIKITPUN HAPUS BAYANGMU
HINGGA WAJAHMU TERUS MENGHANTUIKU
KHAYALKU MEMANG SEMU
HARAPKU MEMANG PALSU
TAK BISA AKU DAPATKAN CINTAMU
KARNA CINTAMU TAK TERCIPTA UNTUKKU
HATIKU BEGITU RESAH
MEMENDAM RINDU PENUH GELISAH
TERKADANG RINDU DATANG MENDERA
MENJADI SATU BERSAMA RASA
ANGIN MALAM
BAWALAH RINDU INI
BERIKAN KEPADANYA
AGAR IA MERASAKANNYA
Semua Karna Ibu (revisi)
Siang yang panas.Anak sekolah,kendaraan,semua memenuhi jalan.Aku berjalan menyusuri gang,menghindar dari asap dan debu yang beterbangan.Terik matahari membuat ubun – ubunku terasa mendidih.Saat pulang sekolah seperti ini memang melelahkan.Namun tidak hari ini, lelah tak terlalu kurasa kala Pak Dlofir,guru fisikaku mengumumkan bahwa aku terpilih untuk mengikuti olimpiade fisika tingkat Jawa Tengah.
Langkahku kupercepat,ingin segera aku menemui ibu dan menceritakan kabar gembira ini.Aku setengah berlari,serasa tak sabar ingin bertemu ibu.
‘’Bu,ibu…Ratih pulang bu…’’Teriakku sampai di depan rumah.
‘’Ada apa Ratih,kok teriak – teriak,buat ibu kaget aja,’’
‘’Ratih terpilih ikut olimpiade fisika tingkat jawa tengah bu…’’
‘’Alhamdulillah…,anak ibu bisa ikut,kapan nak?’’
‘’Lusa bu…’’
‘’Belajar yang rajin,jangan sia-siakan kesempatan ini ‘’
‘’Iya bu,Ratih janji akan berusaha agar nanti bisa bawa piala untuk ibu,’’
‘’Sekarang kamu ganti baju dulu lalu makan ‘’
Aku menurut,ku ganti bajuku dan makan.
Waktuku kuhabiskan untuk belajar.Ibu selalu menyegahku setiap aku mau membantunya mencuci baju atau menyetrika pakaian tetangga yang ia cuci.
‘’Sudah,Ratih belajar aja,nggak usah Bantu ibu dulu’’tuturnya.
Bahkan,setiap malam ibu tak pernah absen menemaniku belajar.Seperti malam ini,malam terakhirku belajar materi olimpiade,karena besok aku sudah lomba.Dengan menjahit seragamku yang akan kupakai besok,ibu menemaniku belajar,hingga ia ketiduran.
Keningku mengkerut,kala kuperhatikan wajah ibu yang pucat
dan tubuhnya yang semakin kurus.Di tangannya masih menggenggam seragamku,yang belum selesai ibu jahit.
‘’Bu…,ibu pindah ke kamar aja,di sini dingin’’dengan hati-hati kucoba membangunkannya.
‘’Hhhh,maaf nak ibu ketiduran,kamu udah selesai belajarnya?’’
‘’Ratih bentar lagi,ibu tidur aja’’
‘’Ibu tidurnya nanti,ibu mau temenin Ratih belajar,sekalian nyelesaiin jahitannya,besok,Ratih pakai apa?’’
‘’Tapi bu…’’
‘’Udah,kamu belajar aja,ibu tidur nanti’’
‘’Tapi kalau ibu udah capek ibu langsung tidur ya…’’
‘’Ya,Ratih juga,jangan malem-malem belajarnya,ntar sakit,besok malah nggak jadi lomba.’’
Aku tersenyum,kulanjutkan belajarku.Wajah ibu tambah pucat,semakin hari batuk ibu juga semakin keras.Hatiku pun menjadi resah.
‘’Besok ibu pergi ke puskesmas ya…,biar dapat obat’’
‘’Ibu nggak papa kok,cuma batuk biasa nanti juga sembuh sendiri’’
‘’Tapi semakin hari batuk ibu semakin keras,kalau nggak segera diobati bisa berbahaya bu…’’
‘’Iya,besok ibu periksa ke puskesmas’’
Aku tersenyum lega,kurapikan buku-bukuku dan mengajak ibu tidur.
* * *
Akhirnya,waktu yang kutunggu datang juga.Hari ini adalah hari aku lomba.Aku berangkat lebih pagi karena tempat aku lomba cukup jauh.
Pagi ini hatiku terasa gelisah,batuk ibu yang semakin keras membuatku jadi khawatir.
‘’Bu,Ratih mau berangkat’’panggilku ketika ibu di belakang.
‘’Iya nak sebentar…’’jawab ibu dengan sedikit lari menemuiku.
‘’Bu,di pipi ibu,kok… ada darah?’’tanyaku heran.
‘’Mana…?,mungkin nyamuk tadi’’ jawab ibu gugup.
‘’Bu,doakan Ratih ya,agar bisa membawa piala untuk ibu.’’
‘’Pasti nak,ibu selalu mendoakanmu’’Air mata ibu menetes.
‘’Bu,tunggu ratih ya…,ratih akan bawa piala untuk ibu.’’
‘’iya nak,ibu akan menunggu anak ibu,selalu.’’
Kucium tangan ibu dank upeluk ibu.Terasa ada rindu yang mendalam di hatiku.Serasa akan ada yang hilang dari ibu,namun segera kubuang jauh pikiran itu.
Aku berangkat,ibu tetap berdiri di depan pintu,memandangku sampai aku di tikungan jalan dan tak terlihat lagi.Setibanya di sekolah pak Dlofir langsung memanggilku untuk berkumpul dengan yang lain.Tak beberapa lama,kami pun berangkat.Karena tempatnya yang cukup jauh,perjalanan memakan waktu tiga jam.
Sampai di Pati,tempatku lomba,Pak Dlofir langsung mendaftar.Diam-diam aku bangga bisa mewakili sekolahku.
Tak berapa lama setelah mendaftar,tes pun dimulai.Beberapa pandangan tertuju kepadaku,dari ujung kaki sampai ujung kepala terus mereka pandangi,mungkin karena sepatuku yang sudah rusak,seragamku yang lusuh,dan tasku yang terlihat jahitan tangan ibu dengan warna benang yang berbeda,sehingga mungkin penampilanku tidak meyakinkan,tidak seperti mereka yang terlihat rapi,aku memang sedikit minder,tapi aku tak boleh pesimis,’’jangan pernah pesimis,apalagi putus asa,orang yang pesimis dan putus asa tak akan pernah berhasil.’’itulah kata-kata ibu yang selalu kupegang.Aku mencoba untuk tetap biasa,kucari tempat duduk dan kukerjakan soal yang telah diberikan pengawas.Alhamdulillah,aku mengerjakan dengan lancar.
Beberapa jam aku dan rombonganku menunggu pengumuman .Setelah diumumkan,alangkah bahagianya hatiku ketika melihat namaku,RATIH NURYANI dari MTs Al-Fatah Grobogan tertulis paling atas.Ya,aku dapat memenangkan ini.Air mataku menetes,pikiranku tertuju pada ibu.’’Bu,ratih berhasil,ratih akan bawa piala untuk ibu,tunggu ratih bu,sebentar lagi ratih pulang,’’ucapku dalam hati.
Setelah tau hasilnya,rombongan kami langsung pulang.Hatiku sudah tak sabar ingin menunjukkan piala ini pada ibu.Akhirnya,setelah tiga jam perjalanan,sampai juga rombongan kami.Aku meminta turun di gang rumahku.Aku lari secepat mungkin,tak sabar hatiku ingin menunjukkan piala yang aku bawa untuk ibu.Tapi,betapa terkejutnya hatiku,melihat tetangga-tetangga mengerumuni rumahku.Jantungku berdetak semakin keras ketika terdengar lantunan surat yasin.
‘’Bu…,ibu…,Ratih pulang bu…’’Teriakku saat masuk rumah.Hatiku semakin hancur kala melihat tubuh ibu membujur tsk bernyawa.
‘’Bu,katanyanya mau nunggu ratih di depan pintu,kok ibu tidur,’’ucapku masih tak percaya.
‘’Bu,Ratih lihat bu,Ratih berhasil,Ratih bawa piala untuk ibu,’’
‘’Bu,kenapa ibu diam,jawab bu,jawab Ratih…’’
‘’Ratih,sabar nak,biarkan ibumu pergi dengan tenang,semua ini takdir’’tutur bu siti tetangga dekatku.
‘’Ibu nggak mati,ibu udah janji mau nunggu Ratih pulang bawa piala untuk ibu,’’
‘’Ia Ratih,tapi kamu harus sadar,kalau ibumu sudah pergi,’’
Bu Siti mendekapku,aku terus menangis dalam dekapnya.Ia tak berhenti menenangkanku,hingga ia menjelaskan semuanya.
‘’Tadi,sebelum ibumu pergi ia titip ini untukmu.’’Bu siti menyodorkan sebuah amplop padaku.Kuterima amplop itu dan kubaca.
Untuk anak ibu tercinta,
Ratih Nuryani
Ratih…
Ibu yakin,kamu pasti pulang dengan membawa piala untuk ibu,ibu bangga nak.Belajar yang rajin biar pintar dan jadi orang sukses.Jangan seperti ibu,jadi orang bodoh dan tak bias buat Ratih bahagia,
Ratih jangan sedih nak,…
Walaupun saat kamu pulang membawa piala itu ibu sudah tak ada,tapi ibu akan selalu ada di hati ratih.Ratih harus tetap sekolah,bu siti yang akan mengurusmu.Jangan pernah pesimis,apalagi putus asa,orang pesimis dan putus asa tidak akan pernah berhasil.
Ratih harus bisa,ratih harus sukses dan bisa berguna bagi siapa saja.Doakan ibu yang jauh dari ratih,ibu tunggu doa anak ibu selalu.
Ibu
Air mataku semakin deras mengalir.Ku dekap erat surat ibu,hingga basah oleh air mata yang terus mengalir deras.
‘’Ratih,ibumu mengidap penyakit kanker hati,ibumu tak punya biaya untuk berobat.Ibumu merahasiakannya padamu karena ia tak ingin melihat kamu sedih,’’tutur bu siti yang dari tadi ada di sampingku.
‘’Sekarang kamu tinggal bersama Bu Siti,karena ibumu sudah menitipkan kamu pada ibu,’’
Aku terdiam,tak kusangka ibu memendam rahasia ini padaku.
Semua sudah terjadi,tak ada gunanya lagi aku menyesali,walaupun hati belum bisa menerima.
Sejak saat itu aku tinggal dengan ibu siti.Ia seorang janda dan tak mempunyai anak.Dengan warisan yang ditinggal suaminya,ia membiayai sekolahku sampai perguruan tinggi.Prestasi demi prestasi kuperoleh,dan sekarang aku sudah menjadi dokter.
‘’Bu,sekarang Ratih udah berhasil,Ratih udah jadi dokter,seandainya ibu masih ada,pasti ibu bangga lihat Ratih,semua ini karena ibu,’’ucapku di atas nisan ibu.
Langkahku kupercepat,ingin segera aku menemui ibu dan menceritakan kabar gembira ini.Aku setengah berlari,serasa tak sabar ingin bertemu ibu.
‘’Bu,ibu…Ratih pulang bu…’’Teriakku sampai di depan rumah.
‘’Ada apa Ratih,kok teriak – teriak,buat ibu kaget aja,’’
‘’Ratih terpilih ikut olimpiade fisika tingkat jawa tengah bu…’’
‘’Alhamdulillah…,anak ibu bisa ikut,kapan nak?’’
‘’Lusa bu…’’
‘’Belajar yang rajin,jangan sia-siakan kesempatan ini ‘’
‘’Iya bu,Ratih janji akan berusaha agar nanti bisa bawa piala untuk ibu,’’
‘’Sekarang kamu ganti baju dulu lalu makan ‘’
Aku menurut,ku ganti bajuku dan makan.
Waktuku kuhabiskan untuk belajar.Ibu selalu menyegahku setiap aku mau membantunya mencuci baju atau menyetrika pakaian tetangga yang ia cuci.
‘’Sudah,Ratih belajar aja,nggak usah Bantu ibu dulu’’tuturnya.
Bahkan,setiap malam ibu tak pernah absen menemaniku belajar.Seperti malam ini,malam terakhirku belajar materi olimpiade,karena besok aku sudah lomba.Dengan menjahit seragamku yang akan kupakai besok,ibu menemaniku belajar,hingga ia ketiduran.
Keningku mengkerut,kala kuperhatikan wajah ibu yang pucat
dan tubuhnya yang semakin kurus.Di tangannya masih menggenggam seragamku,yang belum selesai ibu jahit.
‘’Bu…,ibu pindah ke kamar aja,di sini dingin’’dengan hati-hati kucoba membangunkannya.
‘’Hhhh,maaf nak ibu ketiduran,kamu udah selesai belajarnya?’’
‘’Ratih bentar lagi,ibu tidur aja’’
‘’Ibu tidurnya nanti,ibu mau temenin Ratih belajar,sekalian nyelesaiin jahitannya,besok,Ratih pakai apa?’’
‘’Tapi bu…’’
‘’Udah,kamu belajar aja,ibu tidur nanti’’
‘’Tapi kalau ibu udah capek ibu langsung tidur ya…’’
‘’Ya,Ratih juga,jangan malem-malem belajarnya,ntar sakit,besok malah nggak jadi lomba.’’
Aku tersenyum,kulanjutkan belajarku.Wajah ibu tambah pucat,semakin hari batuk ibu juga semakin keras.Hatiku pun menjadi resah.
‘’Besok ibu pergi ke puskesmas ya…,biar dapat obat’’
‘’Ibu nggak papa kok,cuma batuk biasa nanti juga sembuh sendiri’’
‘’Tapi semakin hari batuk ibu semakin keras,kalau nggak segera diobati bisa berbahaya bu…’’
‘’Iya,besok ibu periksa ke puskesmas’’
Aku tersenyum lega,kurapikan buku-bukuku dan mengajak ibu tidur.
* * *
Akhirnya,waktu yang kutunggu datang juga.Hari ini adalah hari aku lomba.Aku berangkat lebih pagi karena tempat aku lomba cukup jauh.
Pagi ini hatiku terasa gelisah,batuk ibu yang semakin keras membuatku jadi khawatir.
‘’Bu,Ratih mau berangkat’’panggilku ketika ibu di belakang.
‘’Iya nak sebentar…’’jawab ibu dengan sedikit lari menemuiku.
‘’Bu,di pipi ibu,kok… ada darah?’’tanyaku heran.
‘’Mana…?,mungkin nyamuk tadi’’ jawab ibu gugup.
‘’Bu,doakan Ratih ya,agar bisa membawa piala untuk ibu.’’
‘’Pasti nak,ibu selalu mendoakanmu’’Air mata ibu menetes.
‘’Bu,tunggu ratih ya…,ratih akan bawa piala untuk ibu.’’
‘’iya nak,ibu akan menunggu anak ibu,selalu.’’
Kucium tangan ibu dank upeluk ibu.Terasa ada rindu yang mendalam di hatiku.Serasa akan ada yang hilang dari ibu,namun segera kubuang jauh pikiran itu.
Aku berangkat,ibu tetap berdiri di depan pintu,memandangku sampai aku di tikungan jalan dan tak terlihat lagi.Setibanya di sekolah pak Dlofir langsung memanggilku untuk berkumpul dengan yang lain.Tak beberapa lama,kami pun berangkat.Karena tempatnya yang cukup jauh,perjalanan memakan waktu tiga jam.
Sampai di Pati,tempatku lomba,Pak Dlofir langsung mendaftar.Diam-diam aku bangga bisa mewakili sekolahku.
Tak berapa lama setelah mendaftar,tes pun dimulai.Beberapa pandangan tertuju kepadaku,dari ujung kaki sampai ujung kepala terus mereka pandangi,mungkin karena sepatuku yang sudah rusak,seragamku yang lusuh,dan tasku yang terlihat jahitan tangan ibu dengan warna benang yang berbeda,sehingga mungkin penampilanku tidak meyakinkan,tidak seperti mereka yang terlihat rapi,aku memang sedikit minder,tapi aku tak boleh pesimis,’’jangan pernah pesimis,apalagi putus asa,orang yang pesimis dan putus asa tak akan pernah berhasil.’’itulah kata-kata ibu yang selalu kupegang.Aku mencoba untuk tetap biasa,kucari tempat duduk dan kukerjakan soal yang telah diberikan pengawas.Alhamdulillah,aku mengerjakan dengan lancar.
Beberapa jam aku dan rombonganku menunggu pengumuman .Setelah diumumkan,alangkah bahagianya hatiku ketika melihat namaku,RATIH NURYANI dari MTs Al-Fatah Grobogan tertulis paling atas.Ya,aku dapat memenangkan ini.Air mataku menetes,pikiranku tertuju pada ibu.’’Bu,ratih berhasil,ratih akan bawa piala untuk ibu,tunggu ratih bu,sebentar lagi ratih pulang,’’ucapku dalam hati.
Setelah tau hasilnya,rombongan kami langsung pulang.Hatiku sudah tak sabar ingin menunjukkan piala ini pada ibu.Akhirnya,setelah tiga jam perjalanan,sampai juga rombongan kami.Aku meminta turun di gang rumahku.Aku lari secepat mungkin,tak sabar hatiku ingin menunjukkan piala yang aku bawa untuk ibu.Tapi,betapa terkejutnya hatiku,melihat tetangga-tetangga mengerumuni rumahku.Jantungku berdetak semakin keras ketika terdengar lantunan surat yasin.
‘’Bu…,ibu…,Ratih pulang bu…’’Teriakku saat masuk rumah.Hatiku semakin hancur kala melihat tubuh ibu membujur tsk bernyawa.
‘’Bu,katanyanya mau nunggu ratih di depan pintu,kok ibu tidur,’’ucapku masih tak percaya.
‘’Bu,Ratih lihat bu,Ratih berhasil,Ratih bawa piala untuk ibu,’’
‘’Bu,kenapa ibu diam,jawab bu,jawab Ratih…’’
‘’Ratih,sabar nak,biarkan ibumu pergi dengan tenang,semua ini takdir’’tutur bu siti tetangga dekatku.
‘’Ibu nggak mati,ibu udah janji mau nunggu Ratih pulang bawa piala untuk ibu,’’
‘’Ia Ratih,tapi kamu harus sadar,kalau ibumu sudah pergi,’’
Bu Siti mendekapku,aku terus menangis dalam dekapnya.Ia tak berhenti menenangkanku,hingga ia menjelaskan semuanya.
‘’Tadi,sebelum ibumu pergi ia titip ini untukmu.’’Bu siti menyodorkan sebuah amplop padaku.Kuterima amplop itu dan kubaca.
Untuk anak ibu tercinta,
Ratih Nuryani
Ratih…
Ibu yakin,kamu pasti pulang dengan membawa piala untuk ibu,ibu bangga nak.Belajar yang rajin biar pintar dan jadi orang sukses.Jangan seperti ibu,jadi orang bodoh dan tak bias buat Ratih bahagia,
Ratih jangan sedih nak,…
Walaupun saat kamu pulang membawa piala itu ibu sudah tak ada,tapi ibu akan selalu ada di hati ratih.Ratih harus tetap sekolah,bu siti yang akan mengurusmu.Jangan pernah pesimis,apalagi putus asa,orang pesimis dan putus asa tidak akan pernah berhasil.
Ratih harus bisa,ratih harus sukses dan bisa berguna bagi siapa saja.Doakan ibu yang jauh dari ratih,ibu tunggu doa anak ibu selalu.
Ibu
Air mataku semakin deras mengalir.Ku dekap erat surat ibu,hingga basah oleh air mata yang terus mengalir deras.
‘’Ratih,ibumu mengidap penyakit kanker hati,ibumu tak punya biaya untuk berobat.Ibumu merahasiakannya padamu karena ia tak ingin melihat kamu sedih,’’tutur bu siti yang dari tadi ada di sampingku.
‘’Sekarang kamu tinggal bersama Bu Siti,karena ibumu sudah menitipkan kamu pada ibu,’’
Aku terdiam,tak kusangka ibu memendam rahasia ini padaku.
Semua sudah terjadi,tak ada gunanya lagi aku menyesali,walaupun hati belum bisa menerima.
Sejak saat itu aku tinggal dengan ibu siti.Ia seorang janda dan tak mempunyai anak.Dengan warisan yang ditinggal suaminya,ia membiayai sekolahku sampai perguruan tinggi.Prestasi demi prestasi kuperoleh,dan sekarang aku sudah menjadi dokter.
‘’Bu,sekarang Ratih udah berhasil,Ratih udah jadi dokter,seandainya ibu masih ada,pasti ibu bangga lihat Ratih,semua ini karena ibu,’’ucapku di atas nisan ibu.
Rabu, 24 Februari 2010
SEMUA KARNA IBU
cerpen karya:Ulfatul M IX @
Siang yang panas.Anak sekolah,kendaraan,semua memenuhi jalan.Aku berjalan menyusuri gang,menghindar dari asap dan debu yang beterbangan.Terik matahari membuat ubun – ubunku terasa mendidih.Saat pulang sekolah seperti ini memang melelahkan.Namun tidak hari ini,rasa lelah serasa hilang kala Pak Dlofir,guru fisikaku mengumumkan bahwa aku terpilih untuk mengikuti olimpiade fisika tingkat Jawa Tengah.
Langkahku kupercepat,ingin segera aku menemui ibu dan menceritakan kabar gembira ini.Aku setengah berlari,serasa tak sabar ingin bertemu ibu.
‘’Bu,ibu…Ratih pulang bu…’’Teriakku sampai di depan rumah.
‘’Ada apa Ratih,kok teriak – teriak,buat ibu kaget aja,’’
‘’Ratih terpilih ikut olimpiade fisika tingkat jawa tengah bu…’’
‘’Alhamdulillah…,anak ibu bisa ikut,kapan nak?’’
‘’Lusa bu…’’
‘’Belajar yang rajin,jangan sia-siakan kesempatan ini ‘’
‘’Iya bu,Ratih janji akan berusaha agar nanti bisa bawa piala untuk ibu,’’
‘’Sekarang kamu ganti baju dulu lalu makan ‘’
Aku menurut,ku ganti bajuku dan makan.
Waktuku kuhabiskan untuk belajar.Ibu menyegahku saat aku mau membantunya menyetrika pakaian tetangga yang ia cuci.
‘’Sudah,Ratih belajar aja,nggak usah Bantu ibu dulu’’tuturnya.
Bahkan,setiap malam ibu selalu menemaniku belajar.Seperti malam ini,malam terakhirku belajar materi olimpiade,karena besok aku sudah lomba.Dengan menjahit seragamku yang akan kupakai besok,ibu menemaniku belajar sampai ia ketiduran.
Keningku mengkerut,kala kuperhatikan wajah ibu yang pucat
dan tubuhnya yang semakin kurus.
‘’Bu…,ibu pindah ke kamar aja,di sini dingin’’dengan hati-hati kucoba membangunkannya.
‘’Hhhh,maaf nak ibu ketiduran,kamu udah selesai belajarnya?’’
‘’Ratih bentar lagi,ibu tidur aja’’
‘’Ibu tidurnya nanti,ibu mau temenin Ratih belajar,sekalian nyelesaiin jahitannya,besok,Ratih pakai apa?’’
‘’Tapi bu…’’
‘’Udah,kamu belajar aja,ibu tidur nanti’’
‘’Tapi kalau ibu udah capek ibu langsung tidur ya…’’
‘’Ya,Ratih juga,jangan malem-malem belajarnya,ntar sakit,besok malah nggak jadi lomba.’’
Aku tersenyum,kulanjutkan belajarku.Wajah ibu tambah pucat,semakin hari batuk ibu juga semakin keras.Hatiku pun menjadi resah.
‘’Besok ibu pergi ke puskesmas ya…,biar dapat obat’’
‘’Ibu nggak papa kok,cuma batuki biasa nanti juga sembuh sendiri’’
‘’Tapi semakin hari batuk ibu semakin keras,kalau nggak segera diobati bisa berbahaya bu…’’
‘’Iya,besok ibu periksa ke puskesmas’’
Aku tersenyum lega,kurapikan buku-bukuku dan mengajak ibu tidur.
* * *
Akhirnya,waktu yang kutunggu datang juga.Hari ini adalah hari aku lomba.Aku berangkat lebih pagi karena tempat aku lomba cukup jauh.
Pagi ini hatiku terasa gelisah,batuk ibu yang semakin keras membuatku jadi khawatir.
‘’Bu,Ratih mau berangkat’’panggilku ketika ibu di belakang.
‘’Iya nak sebentar…’’jawab ibu dengan sekit lari menemuiku.
‘’Bu,di pipi ibu kok ada darah?’’tanyaku heran.
‘’Mana…?,mungkin nyamuk tadi’’ jawab ibu gugup.
‘’Bu,doakan Ratih ya,agar bisa membawa piala untuk ibu.’’
‘’Pasti nak,ibu selalu mendoakanmu’’Air mata ibu menetes.
Kucium tangan ibu dank upeluk ibu.Terasa ada rindu yang mendalam di hatiku.Seakan aku ibu akan meninggalkanku.Namun segera kubuang jauh pikiran itu.
Aku berangkat,sampai di sekolah pak Dlofir langsung memanggilku untuk berkumpul dengan yang lain.Tak beberapa lama,kami pun berangkat.Perjalanan memakan waktu tiga jam.
Sampai di Pati,tempatku lomba,Pak Dlofir langsung mendaftar.Diam-diam aku bangga bisa mewakili sekolahku.
Tak berapa lama setelah mendaftar,tespun dimulai.Alhamdulillah,aku mengerjakan dengan lancar.
Beberapa jam kita menunggu pengumuman .Setelah diumumkan,alangkah bahagianya hatiku ketika melihat namaku,RATIH NURYANI dari MTs Al-Fatah Grobogan tertulis paling atas.Ya,aku dapat memenangkan ini.Air mataku menetes,pikiranku tertuju pada ibu.
Setelah tau hasilnya,rombongan kami langsung pulang.Hatiku sudah tak sabar ingin menunjukkan piala ini pada ibu.Akhirnya,setelah tiga jam perjalanan,sampai juga rombongan kami.Aku meminta turun di gang rumahku.Aku lari secepat mungkin,tak sabar hatiku ingin menunjukkan piala yang aku bawa untuk ibu.Tapi,betapa terkejutnya hatiku,melihat tetangga-tetangga mengerumuni rumahku.Jantungku berdetak semakin keras ketika terdengar lantunan surat yasin.
‘’Bu…,ibu…,Ratih pulang bu…’’Teriakku saat masuk rumah.Hatiku semakin hancur kala melihat tubuh ibu membujur tsk bernyawa.
‘’Bu,Ratih bawa piala untuk ibu,bangun bu jagan tinggalin ratih…,ibu jawab bu,kenapa ibu diam…’’tangisku seketika membuncah.
‘’Ratih,sabar nak,biarkan ibumu pergi dengan tenang,semua ini takdir’’tutur bu siti tetangga dekatku.
‘’Tadi,sebelum ibumu pergi ia titip ini untukmu.’’Bu siti menyodorkan sebuah amplop padaku.Kuterima amplop itu dan kubaca.
Untuk anak ibu tercinta,
Ratih Nuryani
Ratih…
Ibu yakin,kamu pasti pulang dengan membawa piala untuk ibu,ibu bangga nak.Belajar yang rajin biar pintar dan jadi orang sukses.Tidak seperti ibu.
Ratih jangan sedih nak,…
Walaupun saat kamu pulang membawa piala itu ibu sudah tak ada,tapi ibu akan selalu ada di hati ratih.Ratih harus tetap sekolah,bu siti yang akan mengurusmu.Jangan pernah pesimis,apalagi putus asa,orang pesimis dan putus asa tidak akan pernah berhasil.
Ratih harus bisa,ratih harus sukses dan bisa berguna bagi siapa saja.Doakan ibu yang jauh dari ratih,ibu tunggu doa anak ibu selalu.
Ibu
Air mataku semakin deras mengalir.
‘’Ratih,ibumu mengidap penyakit kanker hati,ibumu tak punya biaya untuk berobat.Ibumu merahasiakannya padamu karena ia tak ingin melihat kamu sedih,’’tutur bu siti yang dari tadi ada di sampingku.
‘’Sekarang kamu tinggal bersama Bu Siti,karena ibumu sudah menitipkan kamu pada ibu,’’
Aku terdiam,tak kusangka ibu memendam rahasia ini padaku.
Semua sudah terjadi,tak ada gunanya lagi aku menyesali,walaupun hati belum bisa menerima.
Sejak saat itu aku tinggal dengan ibu siti.Ia seorang janda dan tak mempunyai anak.Dengan warisan yang ditinggal suaminya,ia membiayai sekolahku sampai perguruan tinggi.Dan sekarang aku sudah menjadi dokter.prestasi demi prestasi ku dapatkan.Semua itu kulakukan hanya untuk ibu.
Siang yang panas.Anak sekolah,kendaraan,semua memenuhi jalan.Aku berjalan menyusuri gang,menghindar dari asap dan debu yang beterbangan.Terik matahari membuat ubun – ubunku terasa mendidih.Saat pulang sekolah seperti ini memang melelahkan.Namun tidak hari ini,rasa lelah serasa hilang kala Pak Dlofir,guru fisikaku mengumumkan bahwa aku terpilih untuk mengikuti olimpiade fisika tingkat Jawa Tengah.
Langkahku kupercepat,ingin segera aku menemui ibu dan menceritakan kabar gembira ini.Aku setengah berlari,serasa tak sabar ingin bertemu ibu.
‘’Bu,ibu…Ratih pulang bu…’’Teriakku sampai di depan rumah.
‘’Ada apa Ratih,kok teriak – teriak,buat ibu kaget aja,’’
‘’Ratih terpilih ikut olimpiade fisika tingkat jawa tengah bu…’’
‘’Alhamdulillah…,anak ibu bisa ikut,kapan nak?’’
‘’Lusa bu…’’
‘’Belajar yang rajin,jangan sia-siakan kesempatan ini ‘’
‘’Iya bu,Ratih janji akan berusaha agar nanti bisa bawa piala untuk ibu,’’
‘’Sekarang kamu ganti baju dulu lalu makan ‘’
Aku menurut,ku ganti bajuku dan makan.
Waktuku kuhabiskan untuk belajar.Ibu menyegahku saat aku mau membantunya menyetrika pakaian tetangga yang ia cuci.
‘’Sudah,Ratih belajar aja,nggak usah Bantu ibu dulu’’tuturnya.
Bahkan,setiap malam ibu selalu menemaniku belajar.Seperti malam ini,malam terakhirku belajar materi olimpiade,karena besok aku sudah lomba.Dengan menjahit seragamku yang akan kupakai besok,ibu menemaniku belajar sampai ia ketiduran.
Keningku mengkerut,kala kuperhatikan wajah ibu yang pucat
dan tubuhnya yang semakin kurus.
‘’Bu…,ibu pindah ke kamar aja,di sini dingin’’dengan hati-hati kucoba membangunkannya.
‘’Hhhh,maaf nak ibu ketiduran,kamu udah selesai belajarnya?’’
‘’Ratih bentar lagi,ibu tidur aja’’
‘’Ibu tidurnya nanti,ibu mau temenin Ratih belajar,sekalian nyelesaiin jahitannya,besok,Ratih pakai apa?’’
‘’Tapi bu…’’
‘’Udah,kamu belajar aja,ibu tidur nanti’’
‘’Tapi kalau ibu udah capek ibu langsung tidur ya…’’
‘’Ya,Ratih juga,jangan malem-malem belajarnya,ntar sakit,besok malah nggak jadi lomba.’’
Aku tersenyum,kulanjutkan belajarku.Wajah ibu tambah pucat,semakin hari batuk ibu juga semakin keras.Hatiku pun menjadi resah.
‘’Besok ibu pergi ke puskesmas ya…,biar dapat obat’’
‘’Ibu nggak papa kok,cuma batuki biasa nanti juga sembuh sendiri’’
‘’Tapi semakin hari batuk ibu semakin keras,kalau nggak segera diobati bisa berbahaya bu…’’
‘’Iya,besok ibu periksa ke puskesmas’’
Aku tersenyum lega,kurapikan buku-bukuku dan mengajak ibu tidur.
* * *
Akhirnya,waktu yang kutunggu datang juga.Hari ini adalah hari aku lomba.Aku berangkat lebih pagi karena tempat aku lomba cukup jauh.
Pagi ini hatiku terasa gelisah,batuk ibu yang semakin keras membuatku jadi khawatir.
‘’Bu,Ratih mau berangkat’’panggilku ketika ibu di belakang.
‘’Iya nak sebentar…’’jawab ibu dengan sekit lari menemuiku.
‘’Bu,di pipi ibu kok ada darah?’’tanyaku heran.
‘’Mana…?,mungkin nyamuk tadi’’ jawab ibu gugup.
‘’Bu,doakan Ratih ya,agar bisa membawa piala untuk ibu.’’
‘’Pasti nak,ibu selalu mendoakanmu’’Air mata ibu menetes.
Kucium tangan ibu dank upeluk ibu.Terasa ada rindu yang mendalam di hatiku.Seakan aku ibu akan meninggalkanku.Namun segera kubuang jauh pikiran itu.
Aku berangkat,sampai di sekolah pak Dlofir langsung memanggilku untuk berkumpul dengan yang lain.Tak beberapa lama,kami pun berangkat.Perjalanan memakan waktu tiga jam.
Sampai di Pati,tempatku lomba,Pak Dlofir langsung mendaftar.Diam-diam aku bangga bisa mewakili sekolahku.
Tak berapa lama setelah mendaftar,tespun dimulai.Alhamdulillah,aku mengerjakan dengan lancar.
Beberapa jam kita menunggu pengumuman .Setelah diumumkan,alangkah bahagianya hatiku ketika melihat namaku,RATIH NURYANI dari MTs Al-Fatah Grobogan tertulis paling atas.Ya,aku dapat memenangkan ini.Air mataku menetes,pikiranku tertuju pada ibu.
Setelah tau hasilnya,rombongan kami langsung pulang.Hatiku sudah tak sabar ingin menunjukkan piala ini pada ibu.Akhirnya,setelah tiga jam perjalanan,sampai juga rombongan kami.Aku meminta turun di gang rumahku.Aku lari secepat mungkin,tak sabar hatiku ingin menunjukkan piala yang aku bawa untuk ibu.Tapi,betapa terkejutnya hatiku,melihat tetangga-tetangga mengerumuni rumahku.Jantungku berdetak semakin keras ketika terdengar lantunan surat yasin.
‘’Bu…,ibu…,Ratih pulang bu…’’Teriakku saat masuk rumah.Hatiku semakin hancur kala melihat tubuh ibu membujur tsk bernyawa.
‘’Bu,Ratih bawa piala untuk ibu,bangun bu jagan tinggalin ratih…,ibu jawab bu,kenapa ibu diam…’’tangisku seketika membuncah.
‘’Ratih,sabar nak,biarkan ibumu pergi dengan tenang,semua ini takdir’’tutur bu siti tetangga dekatku.
‘’Tadi,sebelum ibumu pergi ia titip ini untukmu.’’Bu siti menyodorkan sebuah amplop padaku.Kuterima amplop itu dan kubaca.
Untuk anak ibu tercinta,
Ratih Nuryani
Ratih…
Ibu yakin,kamu pasti pulang dengan membawa piala untuk ibu,ibu bangga nak.Belajar yang rajin biar pintar dan jadi orang sukses.Tidak seperti ibu.
Ratih jangan sedih nak,…
Walaupun saat kamu pulang membawa piala itu ibu sudah tak ada,tapi ibu akan selalu ada di hati ratih.Ratih harus tetap sekolah,bu siti yang akan mengurusmu.Jangan pernah pesimis,apalagi putus asa,orang pesimis dan putus asa tidak akan pernah berhasil.
Ratih harus bisa,ratih harus sukses dan bisa berguna bagi siapa saja.Doakan ibu yang jauh dari ratih,ibu tunggu doa anak ibu selalu.
Ibu
Air mataku semakin deras mengalir.
‘’Ratih,ibumu mengidap penyakit kanker hati,ibumu tak punya biaya untuk berobat.Ibumu merahasiakannya padamu karena ia tak ingin melihat kamu sedih,’’tutur bu siti yang dari tadi ada di sampingku.
‘’Sekarang kamu tinggal bersama Bu Siti,karena ibumu sudah menitipkan kamu pada ibu,’’
Aku terdiam,tak kusangka ibu memendam rahasia ini padaku.
Semua sudah terjadi,tak ada gunanya lagi aku menyesali,walaupun hati belum bisa menerima.
Sejak saat itu aku tinggal dengan ibu siti.Ia seorang janda dan tak mempunyai anak.Dengan warisan yang ditinggal suaminya,ia membiayai sekolahku sampai perguruan tinggi.Dan sekarang aku sudah menjadi dokter.prestasi demi prestasi ku dapatkan.Semua itu kulakukan hanya untuk ibu.
Minggu, 21 Februari 2010
ABOUT ME
Hi sobat.....
knalin nih,q ulfa anak klz 1xA.Q skul in MTsN Jeketro,MTs Faforitq.Q hidup dalam penjara suci,di PONPES Assalaf Jeketro.So,selain di skul,q juga menimba ilmu di pondox.
Q punya banyak hobi. Diantaranya adalah nyanyi,curhat ,& nonton tv. Q juga seneng qiroat n sholawatan,coz,bz bwt hatiq tenang.Islam memang indah,g' ada duanya dech...
knalin nih,q ulfa anak klz 1xA.Q skul in MTsN Jeketro,MTs Faforitq.Q hidup dalam penjara suci,di PONPES Assalaf Jeketro.So,selain di skul,q juga menimba ilmu di pondox.
Q punya banyak hobi. Diantaranya adalah nyanyi,curhat ,& nonton tv. Q juga seneng qiroat n sholawatan,coz,bz bwt hatiq tenang.Islam memang indah,g' ada duanya dech...
Langganan:
Postingan (Atom)